MALANG – Gangguan kecemasan atau anxiety kini menjadi salah satu tantangan kesehatan mental yang paling banyak ditemui di era digital. Menanggapi fenomena ini, sebuah tim peneliti melakukan inovasi dengan merancang sebuah aplikasi terapi musik yang dirancang khusus untuk membantu penderita mengelola gejala kecemasan mereka secara mandiri dan efektif. Penelitian ini lahir dari kesadaran akan pentingnya dukungan teknologi yang inklusif dan mudah diakses bagi masyarakat yang mengalami gangguan emosional.
Penelitian berjudul “Perancangan Aplikasi Terapi Musik untuk Penderita Anxiety Menggunakan Pendekatan Human Centered Design (HCD), Persona, dan Minimum Viable Product (MVP)” ini disusun oleh Kartika Dyah Utami, Wahyu Teja Kusuma, dan Mochammad Anshori. Para peneliti ini berafiliasi dengan Program Studi Informatika Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS.DR. Soepraoen Kesdam V/BRW (ITSK Soepraoen). Karya ilmiah ini secara resmi telah dipublikasikan dalam Jurnal Indonesia: Manajemen Informatika dan Komunikasi (JIMIK), Volume 6, Nomor 3, edisi September 2025 dengan DOI: 10.63447/jimik.v6i3.1453.
Substansi utama dari penelitian ini terletak pada penggunaan metode Human Centered Design (HCD). Pendekatan ini memastikan bahwa proses pengembangan aplikasi tidak hanya berfokus pada kecanggihan fitur, melainkan benar-benar menempatkan pengguna sebagai pusat dari solusi yang ditawarkan. Dengan mengamati kebutuhan psikologis dan hambatan yang dialami penderita anxiety, tim peneliti membangun “Persona” atau profil pengguna representatif untuk memahami skenario dunia nyata di mana aplikasi ini akan digunakan, sehingga interaksi di dalamnya terasa lebih personal dan menenangkan.
Selain HCD, penelitian ini menerapkan konsep Minimum Viable Product (MVP). Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan versi awal aplikasi dengan fitur inti yang paling dibutuhkan oleh penderita kecemasan, yakni akses ke pustaka audio terapi yang telah disesuaikan secara saintifik. Melalui pendekatan MVP, pengembang dapat merilis aplikasi lebih cepat untuk mendapatkan umpan balik langsung dari pengguna, yang kemudian digunakan untuk penyempurnaan di masa mendatang tanpa harus menghabiskan waktu pada fitur tambahan yang belum tentu efektif bagi kesehatan mental.
Integrasi terapi musik ke dalam format digital dianggap sebagai langkah strategis karena sifatnya yang non-invasif dan dapat diakses kapan saja melalui smartphone. Musik yang dipilih dalam aplikasi ini dirancang untuk memengaruhi gelombang otak dan detak jantung, membantu menciptakan kondisi relaksasi bagi sistem saraf yang sedang tegang akibat kecemasan. Inovasi ini memberikan alternatif solusi di tengah keterbatasan jumlah tenaga profesional kesehatan mental di Indonesia, dengan menyediakan alat bantu pertama yang berbasis bukti digital.
Keberadaan penelitian ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi kesehatan mental (health-tech) yang lebih empati di masa depan. Tidak hanya memberikan kontribusi bagi dunia akademisi dalam bidang informatika kesehatan, hasil karya Kartika Dyah Utami dan rekan-rekan ini memberikan harapan baru bagi jutaan penderita anxiety untuk mendapatkan dukungan terapi yang praktis di genggaman tangan. Dengan dukungan riset yang berkelanjutan, aplikasi semacam ini berpotensi menjadi bagian dari ekosistem layanan kesehatan digital nasional yang lebih inklusif.
Pranala luar:
- https://journal.stmiki.ac.id/index.php/jimik/article/view/1453
- https://doi.org/10.63447/jimik.v6i3.1453
How to cite:
Dyah Utami, K., Kusuma, W. T., & Anshori, M. (2025). Perancangan Aplikasi Terapi Musik untuk Penderita Anxiety Menggunakan Pendekatan Human Centered Design (HCD), Persona, dan Minimum Viable Product (MVP). Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika Dan Komunikasi, 6(3), 1508-1519. https://doi.org/10.63447/jimik.v6i3.1453